GP — Sekitar 40 negara dijadwalkan bertemu pada Jumat (17/4) untuk membahas krisis navigasi di Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Dilaporkan Reuters, pertemuan ini akan dipimpin oleh Emmanuel Macron dan Keir Starmer, dengan fokus utama memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka seperti sedia kala.
Berdasarkan nota yang dikirim kepada negara-negara undangan, agenda pertemuan juga mencakup pembahasan tantangan ekonomi yang dihadapi industri pelayaran, serta keselamatan lebih dari 20 ribu pelaut yang saat ini tertahan di kapal-kapal di sekitar kawasan tersebut.
Krisis ini bermula setelah Iran menutup jalur maritim Selat Hormuz usai serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Teheran pada 28 Februari. Penutupan tersebut berdampak signifikan terhadap pasar energi global, mengingat selat ini menjadi jalur bagi sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia.
Situasi semakin memanas setelah AS turut melakukan blokade terhadap Selat Hormuz per 13 April, menyusul gagalnya negosiasi damai antara AS dan Iran di Pakistan.
Langkah Washington itu menuai penolakan dari sejumlah negara. Namun, pemerintahan Presiden Donald Trump tetap bersikukuh bahwa blokade diperlukan untuk menekan Iran agar kembali ke meja perundingan.
Trump bahkan disebut telah meminta negara-negara sekutu untuk ikut serta dalam blokade tersebut. Meski demikian, sejumlah negara Eropa seperti Inggris dan Prancis menilai keterlibatan dalam blokade sama saja dengan ikut dalam konflik bersenjata.
Kendati enggan terlibat langsung, negara-negara tersebut menyatakan kesiapan untuk membantu menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, namun hanya setelah tercapainya gencatan senjata permanen atau berakhirnya konflik.
Dalam dokumen yang sama, pertemuan Jumat ini juga akan membahas rencana pengerahan kekuatan militer multinasional yang bersifat defensif guna menjamin kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
Menariknya, pembicaraan ini tidak melibatkan AS maupun Iran. Meski begitu, para diplomat Eropa menilai bahwa setiap solusi jangka panjang tetap memerlukan koordinasi dengan kedua negara tersebut.
Selain Macron dan Starmer, pertemuan di Paris ini juga akan dihadiri langsung oleh Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni. Sementara itu, pejabat dari negara lain akan bergabung melalui konferensi video.
China turut diundang dalam forum tersebut, namun hingga kini belum ada kepastian apakah Beijing akan berpartisipasi.(red)












